My Other Blog

Showing posts with label Cerpen Cinta. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Cinta. Show all posts

Monday, 20 April 2015

Aku Cinta Kamu, Kamu Cinta Dia

aku cinta kamu

Fajar menyingsing di ufuk timur. Kicauan burung menemani pagi yang damai. Semilir angin sejuk menerpa kulit halus Reika. Gadis berdarah Jepang ini, senang sekali menikmati hembusan angin di pagi hari.

" Rei. " seorang laki laki tampan menghampiri Reika yang sedang meresapi sejuknya udara pagi. " Eh Dika. Ada apa nih, kok tumben kesini? " tanya Rei dengan perasaan sedikit gugup. Karna laki-laki yang disukai Reika, saat ini sedang berada dihadapannya. " Hmm jadi gini, kamu mau bantu aku gak? Please.. " tanya Dika dengan nada memohon. Tentu saja Reika tak dapat menolak permintaan orang yang disukainya. " Selagi aku bisa, aku pasti mau bantu kok. " jawab Rei dengan ramah. " Jadi gini, sebenarnya aku ..." Dika tampak ragu untuk melanjutkan kata-katanya. " Aku apa Dik? Kok kamu ragu buat ngomong? " tanya Rei yang mulai penasaran dengan tingkah aneh Dika. " Hmm mau gak besok kamu nemenin aku jogging ? "" Oh iya, mau banget dong. " Rei langsung menjawab ajakan Dika dengan spontan. " Makasih banyak, tolong kamu ajak Intan juga ya. " pinta Dika. " Iya sama-sama, oke Dik. " kata Rei sambil tersenyum manis. " Ok, besok jam tujuh pagi, aku kerumah kamu. Uhm.. aku pergi dulu ya, bye bye. " Dika lekas berlari meninggalkan Reika sambil melambaikan tangan. " Iyaa, bye bye Dika.. " sahut Rei sembari membalas lambaian tangan Dika. Rei merasa ada yang ganjal dengan tingkah Dika. Tidak biasanya dia mengajak jogging. Tapi Rei tetap merasa senang, karna dia bisa jogging bersama orang yang disukainya. Ketika teringat akan permintaan Dika, Rei lekas mengirimkan pesan singkat kepada Intan._______________________________________To: IntanSelamat Pagiii.. ^^besok jogging bareng yuk, yg ngajak Dika lohh..aku tunggu dirumah jam 06:30 yaa..Thanks._______________________________________Tak perlu menunggu waktu lama. Pesan darinya langsung dibalas oleh Intan. Rei pun segera membukanya.____________________________From : IntanPagi...Ok Rei, aku usahain tepat waktu ya ____________________________ Reika senang karna Intan bersedia untuk diajak jogging bersama Dika. Dengan perasaan berbunga-bunga, Rei kembali masuk kerumahnya. Ia tak sabar untuk bisa jogging bersama Dika.‘ Ah apa-apaan ini, seiring berjalannya waktu, perasaanku ke Dika semakin besar saja. Mungkin dalam waktu dekat ini, aku harus segera mengutarakannya. ’ fikir Rei dalam benaknya. Hari berlalu dengan cepat. Waktu yang ditunggu-tunggu oleh Rei, akhirnya datang juga. Walau sekedar jogging bareng, Reika benar-benar memperhatikan penampilannya di pagi ini. Tepat pukul 06:28, Intan tiba dirumah Rei." Hai Rei, aku gak telat kan? Hah hah hah.. " tanya Intan dengan nafas yang terengah-engah. " Gak kok, kamu malah kecepetan dua menit. Padahal joggingnya kan jam tujuh, tapi kok kamu dah ngos-ngosan dulu sih? " tanya Rei sedikit mengejek " Ah kamu ini, aku barusan dikejar-kejar anjing tau " jawab Intan dengan nada kesal. " Oh gitu ya, hahahaha. " Disaat Reika sedang asik tertawa, tibalah Dika dirumahnya. " Hai Intan. Hai Rei. Aku gak telat kan? " tanya Dika sambil memperhatikan keduanya. " Gak kok Dik. " jawab Intan sambil tersenyum, " Rei, berhenti ketawanya. Dika udah dateng nih." kata Intan sambil menepuk pundak Reika. " Eh iya maaf. Abisnya kamu lucu banget sih " kata Rei kepada Intan. " Orang dikejar anjing dibilang lucu. Capek tau " balas Intan agak kesal. " Hush, udah-udah kita langsung jogging aja yuk " ajak Dika. " Yuk " jawab Reika dan Intan secara bersamaan. Mereka bertiga pun lari kecil disekitar taman kota. Canda tawa dan kebahagian benar-benar mereka dapatkan. Khususnya Dika dan Intan, mereka berdua terlihat begitu dekat. Setelah merasa puas berlari-lari kecil selama 1 jam dikawasan taman kota, mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Karna jalan pulang yang searah, Intan dan Dika memutuskan untuk pulang bersama. Ini merupakan hal yang membuat Dika merasa sangat bahagia. Namun tidak bagi Reika yang menyimpan rasa suka padanya." Duluan ya Rei. " pamit Intan dan Dika serempak. " Iya bye bye. Kapan-kapan kita joging bareng lagi yaa.. " kata Rei sambil melambaikan tangannya. Tiga hari setelah acara joging bareng tersebut. Rei masih saja terbayang-bayang dengan kedekatan Dika dan Intan. Karena terus diliputi rasa penasaran, Reika akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Intan lewat telepon. Reika : hallo Intan : hallo Rei, ada apa ya? Reika : uhmm jadi gini, kayaknya Dika suka sama kamu lebih dari temen deh. Intan : kamu ngomong apa sih Rei. Aku sama Dika kan cuma temenan, mana mungkin dia suka aku lebih dari temen. Reika : oh gitu. Makasih banyak ya atas waktunya. Intan : iya sama-sama. Reika : bye Intan. Intan : bye Rei. Perasaan Rei menjadi sedikit tenang berkat penjelasan dari Intan. Karena ada dorongan dari hatinya, Reika jadi ingin sekali mengutarakan perasaannya pada Dika secepatnya juga. ‘ Besok aku harus mengutarakannya ’Semalaman suntuk, Rei berusaha untuk membuat kue brownis coklat kesukaan Dika. Hingga akhirnya Reika hanya sempat tidur dua jam. Ke esokan malamnya, tepatnya pukul 19:16, Reika berdandan sangat cantik untuk pergi ke rumah Dika. Tak lupa Reika juga membawa kue brownis yang dibuatnya sendiri untuk Dika. Rei kembali meyakinkan pada dirinya, bahwa malam ini juga ia harus mengutarakan perasaannya pada Dika. Sesampainya didepan rumah Dika, Reika melihat pemandangan yang membuatnya diam terpaku. Terlihat jelas dari balik jendela yang tak tertutupi oleh korden, Dika sedang memeluk erat Intan. Air mata seketika mengalir dari mata Reika. Badan Rei terasa sangat lemas, hingga akhirnya kue brownis yang dipegangnya pun terlepas. Karena tak kuat untuk terus melihatnya, Rei segera beranjak pergi dari rumah Dika dengan berlinangan air mata. Pukul 20:38 dirumah Dika." Maaf Dik, bukannya aku gak mau nerima kamu. Tapi, ada orang lain yang mencintaimu lebih dari siapapun " Intan berusaha menolak Dika dengan halus." Ya sudahlah, aku tidak akan memaksamu. Tapi, siapa yang kamu maksud? " tanya Dika dengan raut wajah serius. " Reika Dik. Tadi sore dia ngomong sama aku, kalo dia itu cinta banget sama kamu. " jawab Intan sambil beranjak keluar dari rumah Dika. " Hah?! Rei? " Dika merasa sangat bersalah atas ketidak pekaannya pada Rei. Intan pergi meninggalkan Dika yang masih diam terpaku ditempat. Delapan menit kemudian, Dika beranjak untuk menutup pintu rumahnya yang terbuka. Namun, betapa terkejutnya Dika saat melihat ada brownis kesukaannya didepan pintu. " Siapa yang menaruhnya? " Dika lekas memungutnya, dan kembali masuk kedalam rumah. Dika membuka kotak brownisnya, dan menemukan selembar kertas. __________________________________________________________________________from: Reika Hay Dik, aku bikin sendiri lohh.. Aku bikin nih brownis semaleman suntuk, cuma demi kamu. Hehehehe... Oh iya, sebenarnya aku udah lama suka kamu. Tapi aku gak berani buat ngungkapin ke kamu. Dan akhirnya, malam ini juga aku beranikan diri buat kerumah kamu. Walau sedikit nervous sihh.. Hehehe.. Brownisnya jangan lupa dimakan yaa... __________________________________________________________________________ Tetes demi tetes air mengalir dari mata Dika, dan membasahi kertas dari Rei. Perasaan bersalah Dika bertambah setelah membaca tulisan dikertas itu. Dika menduga, mungkin Rei melihatnya saat memeluk Intan. Dia tau seperti apa perasaan Rei saat ini. ‘ Aku sudah menyakitinya. Malam ini juga, aku harus kerumah Rei. ’ Dika beranjak keluar dari rumahnya. Namun sayang, hujan ternyata turun dengan deras. Walau begitu, Dika tetap nekad untuk pergi kerumah Reika. ‘ Aku harus meminta maaf pada Rei ’ Tanpa memperdulikan hujan yang semakin deras. Dika terus berlari menuju rumah Rei. Sesampainya dirumah Rei. Ia lekas mengetuk pintunya. " Rei.. Rei.. Ini aku Dika. Rei.. " Dika terus mengetuk pintu rumah Rei. " Kamu percuma Dika, Rei udah pergi satu jam yang lalu " kata Intan sambil menghampiri Dika. " Hah pergi?! Pergi kemana? " " Rei kembali ke negara asalnya, yaitu Jepang. Tadi Rei menitipkan surat ketetangganya surat ini untukmu Dik " kata Intan seraya menyerahkan sepucuk surat kepada Dika. " Iya thanks " Dika membuka surat tersebut dan lekas membacanya. ________________________________________________________________________Untukmu, Dika Setiawan. Maaf aku pergi tanpa pamit sama kamu. Aku memutuskan untuk kembali kerumah orang tuaku dan mungkin aku gak akan ke Indonesia lagi. Aku terpaksa gitu karna aku gak mau ngeganggu hubungan kalian. Memang berat rasanya melihat orang yang dicintai memeluk wanita lain. Tapi, aku gak punya hak buat cemburu. Karna aku cinta kamu, dan kamu cinta dia. Salam manis, Mikoto Reika ^^ ________________________________________________________________________ Air mata Dika kembali mengalir. Rasa bersalah benar-benar dirasakannya. " Rei. Apakah aku terlambat untuk meminta maaf? "

__Tamat__


Karya:
Nama: Karlina Astuti (Nina) alamat: Pemalang, Jateng umur: 13 tahun. Fb: Karlina Astuti II

I Hate You but I Love You



Ini cerita ku, cerita tentangku. Perkenalkan , namaku vika. Aku adalah seorang murid baru, murid yang baru masuk ke SMA maksud aku. Dari sini lah ceritaku dimulai. Aku baru mengenal mereka semua, orang-orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Mereka sangatlah asyik dan menyenangkan , tak kalah dengan teman-teman ku dari SMP dulu.
Suatu hari aku mengenal seorang cowok, cowok yang sangatlah menyebalkan. Aku sangat-sangat membencinya karna dia selalu menggangguku. Dan parahnya dia sekelas denganku. OMG… kenapa sih dia harus sekelas dengan ku. Haruskah aku bertemu dengannya setiap hari. Itu adalah hal yang sangat menyebalkan dan membosankan bagiku. Entah hal parah apalagi yang akan terjadi padaku setelah ini.
Beberapa hari telah berlalu, aku mulai terbiasa dengan sekolah baru ku. Akupun juga telah terbiasa dengan teman-teman baru ku. Tapi baru saja mengenal mereka aku sudah mendapat konflik, aku mulai tidak menyukai beberapa sifat temanku. Yang tidak aku sukai dari temanku yaitu tidak setia kawan, mereka sering meninggalkanku begitu saja. Mungkin mereka belum terbiasa denganku.
“cie-cie yang ditinggal sama temannya, cie aduh kasihan” kata Riski si cowok menyebalkan itu. Kenapa dia harus ada disini sih. Huh.
“ eh biarin dong. Yang penting gue punya temen dari pada loe gak punya temen. Huek” balas ku dengan nada mengejek.
“gue??? Eh sorry hlo, gue punya banyak temen dong”
“ah, masak sih? Sekarang mana coba temen loe?” hatiku mulai sangat jengkel dengannya.
“nih disini, yang lagi ngomong sama gue”
“ha??? Siapa? Gue??? Kalau gue gak mau???” aku pun langsung pergi tanpa mendengar jawaban darinya.
Keesokan harinya dia mulai berulah lagi. Pada saat jam istirahat, aku yang baru dari kantin sedang melihat dia duduk dibangku ku. Kenapa selalu dia lagi sih, kapan dia berubah baik padaku.
“minggir dong, gue mau duduk disini” kataku dengan nada jutek.
“em… tuh disitu ada kursi kosong” katanya sambil menujuk.
“apaan sih, gue maunya disini”
“maaf, kursinya sudah menempel denganku”
“iya-iya okey, dasar nyebelin. Huh!” gerutuku sambil duduk di kursi lain.
Kenapa sih dia begitu dengan ku, memperlakukan aku beda dengan yang lain. Bisakah dia baik dengan ku? Kapan? Aku menjadi penasaran dengan dia. Aku menjadi ingin mencari tahu tentang dia. Di kelas dia terlihat tidak semngat. Dia selalu terlihat galau. Andai saja aku bisa menghiburnya. Tapi sepertinya tidak bisa, aku sama dia kan seperti anjing dan kucing, gak bisa akur.
Aku ingin mencoba hal baru disekolah baruku. Ingin mencoba lebih aktif disini. Aku mencoba untuk menjadi panitia kemah. Wow, ternyata tidak parah juga. Ini sangat mengasyikan, lebih dari yang ku bayangkan. Ada kesan special pada waktu berkemah. Seperti terjadi sebuah keajaiban. awalnya Aku sangatlah sibuk saat itu, hingga aku tak sempat memikirkan diriku sendiri. Dan akhirnya aku jatuh sakit saat sedang berkemah. Diruangan yang hanya ada aku seorang aku benar-benar merasakan kesepian. Tidak ada Seorang teman yang menjenguk atau menemaniku. Tiba-tiba pintu terbuka, dan ternyata dia, dia orang yang aku benci. Dia datang menemaniku.
“kelihatannya kamu terlalu capek. Ni aku bawain makanan sama minuman. Pasti kamu belum makan dari tadi pagi” katanya sambil datang menghampiriku.
“ouh, emm… makasih. Aku memang belum makan. Kok kamu tau sih??” aku terheran sambil menatap wajahnya.
“iya, kamu terlihat sibuk tadi, liat tuh kamu sampai jatuh sakit begini” kata Riski sambil memberikan makanan yang dibawanya.
“ah, masak sih… eh., kok kamu tau? kamu perhatiin aku ya???” aku semakin penasaran dengan dia.
“emmm, udah ini makan dulu makanannya, biar cepat sembuh”
“oh, emmm, makasih ya…” kataku sambil terus melihat Riski. sifatnya ini benar-benar beda dengan dia yang sebelumnya. Dia sangatlah perhatian dengan ku, lebih perhatiah daripada teman-temanku. Tapi aku bahagia setidaknya masih ada yang perhatian denganku, walaupun itu hanya dia. Dan aku sangat senang sekali karna semenjak itu aku menjadi akrab dengannya. Semenjak itu juga aku mulai mengenal siapa dia sebenarnya, dan semenjak itu sepertinya aku mulai suka dengannya. Huft, tapi sayang… dia sudah punya pacar. Pacarnya sih gak satu kelas dan gak satu sekolah dengan ku, dengan begitu aku bisa bebas dekat dengannya.
Hari demi hari berlalu, dan perasaan ku ini mulai berkembang dengannya. Aku sudah meyakinkan diriku bahwa dia sudah punya yang lain, tapi hatiku tetap saja memilih dia dan menginginkan dia. Sepertinya aku benar-benar jatuh cinta padanya, cintaku padanya adalah cinta yang tulus. Dan aku sudah tidak bisa memendam lagi perassaanku ini. Ingin ku katakana yang sejujurnya dengan dia, apapun yang akan terjadi, aku akan siap menerima resiko itu.
Disaat jam pulang sekolah, seperti biasa aku keluar gerbang bersama dengannya.
“ris” kataku mempersiapkan mental.
“iya vik? Ada apa? Eh pelajaran b.inggris tadi menyenangkan ya. Gurunya itu beda dengan guru SMP” katanya sambil bercerita.
“iya benar.. tapi ris…”
“tapi apa? Matematika tadi? Oh iya,, menyebalkan sekali. Aku bener-bener gak mudeng sama pelajarannya tadi”
“bukan,, bukan itu. Tapi aku mau ngomong sama kamu.”
“eh, mau ngomong apa??”
“em… aku…. Aku… suka sama kamu.”
Deg-deg,Deg-deg. jantungku berdebar dengan kencang. Tiba-tiba suasana menjadi sunyi senyap.
“kamu… kamu beneran suka sama aku vik?”
“iya,, maaf sebelumnya, aku tau kamu sudah punya dia, tapi aku gak bisa nahan perasaanku ini. Menurutmu., kamu sama aku gimana ik?”
Dan sebelum dia menjawab pertanyaanku, aku sudah dijemput. Tanpa mendengar jawaban darinya aku langsung pergi begitu saja. Ah, kenapa jemputannya datang diwaktu yang gak tepat. Padahal aku sudah menyatakan perasaanku itu, dan tinggal mendengar jawaban darinya. Tapi tadi kenapa aku tinggal begitu saja? Uh, sangat menyesal aku meninggalkan dia. Pasti besok aku salting sama dia. Pasti sifatnya bakal berubah deh denganku. Uh.
Keesokan harinya aku berusaha untuk menenangkan diri. Aku takut untuk bertemu dengannya. Ya, apapun yang terjadi aku akan hadapi. Aku berusaha untuk memasuki kelas dengan tenang, dan tiba-tiba disaat aku duduk… “hai vik, tumben agak cepat?” ha??? Dia? Dia menyapaku? Riski menyapaku duluan. Oh senangnya hatiku. Tapi? Kenapa sifat dia tidak berubah dengan ku? Setauku cowok kalau habis mendengar akan seseorang yang suka dengan dia, dia langsung menghidar, apalagi dia.. dia kan sudah punya pacar. Dia aneh. Dia beda dengan yang lain…
“hei??? Kok bengong sih vik?? Ada apa??”
“emm… hehe gakpapa og ris J”
Riski,Riski,Riski. Sekarang dipikiran ku hanya ada namamu, dan entah mengapa harus kamu yang aku pilih. Cowok yang jelas-jelas sudah punya pacar. Malam itu dia sms aku. Katanya terimakasih sudah jujur dengan perasaanmu itu. Aku pun juga mendapat jawaban yang kemarin tak sempat ku dengar. Katanya dia juga mempunyai perasaan yang sama dengan ku, tapi itu perasaan yang belum pasti, karena dia juga sayang sama pacarnya. Agar dia bisa memastikan tentang perasaanya padaku, dia mengatakan ingin TTM-an sama aku, dia ingin menjalin Hubungan Tanpa Status (HTS). Dia ingin melihat, bagaimana perkembangan perasaanya itu padaku saat kita HTS. Karena tekad ku sudah bulat, jalan yang aku tempuh ini jalan untuk menemukan hatimu, apapun rintangannya, hadapi! Tanpa pikir panjang aku langsung menyetujui itu.
Hari berikutnya tanpa teman-temanku tau akan hubunganku dan dia, aku dan dia lebih sering berdua. Gandengan tangan , bercanda bersama, SMS’an sampai malam dengan kata-kata sayang dan smile cium , telepon-teleponan, aku dan dia juga sering mengatakan kata “I Love you”. Itu semua aku jalani dengan sembunyi-sembunyi, tanpa teman-teman ku dan pacarnya tau. Kalau boleh aku mengelak dan meminta, aku juga gak mau mencintai kamu dengan cara menyakitkan seperti ini. Tapi aku capek juga dengan semua ini. Haruskah aku bersembunyi trus menerus? Apalagi temanku satu kelas itu ada yang teman pacarnya Riski. Jadi saat aku sedang terlihat berdua dengan Riski aku selalu merasa was-was jika ada dia.
Kenapa disetiap aku bersamanya, hari terasa cepat berlalu. Rasanya baru kemarin aku masuk sekolah ini, sekarang tak terasa satu semester tlah ku lalui. Dua minggu libur sekolah dua minggu juga aku tak bisa bertemu dia. Rasanya berat karna hari yang kujalani selama ini selalu dengannya kini harus ku jalani sendiri. Beberapa hari liburan aku mendapat kabar dari dia. Katanya dia sudah putus dengan pacarnya. Aku kaget. Aku shock. Hati ku campur aduk. Rasanya seneng, sedih, semuanya dan itu menjadi satu. Aku langsung bertanya padanya “kenapa kamu putusin dia? Apa gara-gara aku?”. Dia menjawab “gak, bukan karna kamu. Mungkin ini memang saatnya untuk aku putus sama dia”. Aku lega mendengar pernyataan itu, tapi aku masih bertanya-tanya “lalu bagaimana perasaanmu sama aku? Apakh udah jelas? Apakah udah pasti? “. dia menjawab “belum, aku belum pasti akan perasaanku padamu. Hari senin nanti kita ketemuan, aku mau pastiin tentang perasaanku ini”. Aku selalu menyimpan pesan singkatnya itu. Aku akan menemuinya hari senin nanti. Senin adalah hari penentuanku.
Sebelum hari senin, ada yang aneh dengan dia. Dia mulai berubah dengan cepat padaku. Sebeumnya, malam itu aku dan dia sedang bertelepon. Kita mesra-mesra’an sambil mengucapkan kata I LOVE YOU. Paginya dia langsung berubah. Tanpa alasan yang jelas dia marah denganku. Ada apa sih dengan dia, kenapa dia marah denganku. Dan itu terulang berkali-kali. Aku selalu disia-siakan. Disetiap awal kita sms’an, selalu aku dulu yang memulai, aku duluan yang sms dia. Begitu dengan telepon, aku yang menelepon dia. Yang paling membuat hatiku sakit, saat kita smsan, dia menghentikan sejenak dengan alasan dia ingin makan dulu, aku hanyalah menunggu dan menunggu, dan setelah berjam-jam dia tidak menghubungiku. Apa yang kau harapkan dari cinta yang lebih banyak pengabaian daripada perhatian? Aku lelah dengan semua ini, aku merasa tidak dihargai. Aku telah menunggu lama dia sampai berjam-jam tapi dia tidak merasa itu. Tapi aku tidak bisa apa-apa, aku tidak bisa marah dengannya, aku tau dia orangnya pemarah, aku tak akan memarahinya karna dia pasti akan marah balik. Aku sayang dengannya, sayangku tulus dengannya, bahkan aku rela melakukan apapun semuanya untuk dia. Dear pemberi harapan palsu : masih tegakah kamu membiarkan aku memperjuangkan ‘kita’ seorang diri?
Kalau aku tidak sayang, aku gak mungkin terus memperjuangkan mu hingga lelah letih, agar mampu mengetuk pintu hatimu. Aku terus memperhatikan dia dari jauh walaupun aku tidak bertemu dengannya. Aku membuka semua akun yang dia miliki untuk mengetahui semua tentang dia. Dan apa yang aku temukan? Aku kaget, aku terkejut. Ternyata dia masih sayang pada pacarnya itu. Apa yang dia rasakan tertulis pada akunnya itu. Apa yang telah terjadi, kalau begitu kenapa dia mutusin pacarnya? Apa benar gara-gara aku? Aku tlah merusak hubungannya mereka. Sepertinya dia juga tak bahagia bersama denganku. Mungkin inilah saatnya aku untuk melepaskan dia. Percuma saja hubungan tanpa status ini aku jalani, toh dia juga tetap sama saja, Riski hanya mencintai dia, bukan aku. Aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Aku sudah sakit dengan semua hubungan ini. Aku merasa tlah dibohongi. Perjuanganku selama ini untuk dia sia-sia saja. Hari senin itu sebelum dia memberi kepastian akan perasaannya selama ini, aku duluan yang menyelesaikan semua ini.
“ris, aku capek akan semua ini. Aku capek kamu sia-sia’in. aku mau udahin tentang hubungan kita yang gak jelas ini. Aku juga sudah tau, kamu masih sayang dengan mantan mu itu. Aku memang jahat. Merebut mu dari dia, tapi bukan itu maksud aku, aku hanya ingin bersaing dengan sehat untuk mendapatkan kamu. Aku juga gak minta allah buat suka sama kamu ” jelasku panjang lebar
“hlo vik? Kamu tau dari mana semua itu? Maaf ya vik, bukan maksudku untuk nglakuin semua ini sama kamu, tapi aku…”
“tapi kenapa? Udah deh, aku terlalu sakit hati dengan dirimu. Aku gak perlu KATA-KATA CINTA jika GAK TULUS DARI HATI. Makasih atas sakit yang kau beri"
Kenapa dia seperti itu, ternyata dia hanya mempermainkan ku. Mencintai kamu adalah kesalahan terindah dihidup aku. Kenapa? Karna aku mencintai hati yang memiliki dua ruang. Dipanggil sayang tapi tak benar-benar disayangi. Jangan janji jika tak mampu menepati, apalagi kalau urusan hati. Andai saja cintamu sekuat cintaku ‘saling memperjuangkan’, Pasti membahagiakan *andai saja L * . jika kau bahagia bersama dia, aku mencoba mengikhlaskanmu, dan mencoba tersenyum melihat kebahagiaanmu. Mencintai berarti keikhlasan, walau telah disakiti habis-habisan . Ajari aku untuk tetap bisa tersenyum saat hati aku hancur, ajari aku tuk tetap bisa mencintai setelah hati aku disakiti.


dari: Sefsafca Diana Hemas

Friday, 27 March 2015

Senyummu Mengalihkan Duniaku


Aku tidak pernah bisa berbuat dengan benar jika tugas dan kesibukan menghampiriku. Yang aku tahu, hanya bagaimana caranya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku ini. Tapi pagi menjelang siang itu adalah hari yang cerah. Dimana orang-orang saling bercengkrama dan membicarakan hal yang sama sekali aku tidak ketahui. Bermaksud untuk menemui seseorang karena tugasku, aku berjalan perlahan, selangkah demi selangkah di antara sekerumunan orang-orang.
Pandanganku hanya menuju ke arah langkah kaki dan tumpukkan kertas yang dari tadi memang aku bawa. Aku tidak mengenal orang-orang itu, tapi aku yakin orang-orang tersebut mengenal atau hanya sekedar mengetahui diriku.
Disaat konsentrasiku memikirkan tugasku, aku mendengar suara yang membuat kepalaku berpaling ke arah kanan.
“Hey…” hanya itu yang wanita tersebut ucapkan, sapaan yang nampak mengenalku.
Aku hanya bisa menjawab dengan “Ya..” sambil tersenyum. Tapi tugasku membuatku terus saja berjalan.
Yang mengesankan adalah ketika itu senyuman yang sungguh membuatku melupakan apa yang akan aku lakukan. Sejenak ketika aku memandang senyuman itu, aku lupa siapa diriku, kenapa aku berjalan hari ini, kenapa aku membawa tumpukkan kertas ini, dan kenapa aku harus terburu-buru.
Hari ini adalah hari yang cukup cerah, awan terlihat sedikit tersenyum pada manusia yang ada di bawahnya. Tapi tidak untukku, aku selalu saja merasa lelah dan tidak puas dengan apa yang aku kerjakan selama ini.
Saat ini aku berjalan karena akan bertemu seseorang yang katanya memanggilku. Aku berjalan dengan perasaan agak jengkel karena tugasku yang belum selesai harus ditambah dengan tugas lainnya yang telah menunggu untuk aku kerjakan.
Dengan mengenakan celana pendek bermerek lois lalu memakai kaos black angel warna hijau ku. Aku terus melanjutkan langkahku. Tapi, orang yang aku akan temui tidak ada di tempat dan aku disuruh untuk menunggu beberapa menit.
Aku duduk pada undakan lantai keramik berwarna putih yang telah disapu bersih saat ini. Pandanganku tiba-tiba beralih ke suara tawa beberapa sosok wanita yang menarik perhatianku itu. Disitulah aku melihatmu dengam senyum yang lagi-lagi membuatku lupa akan apa yang sedang aku kerjakan.
Canda tawa mewarnai wajahmu saat ini. Aku tidak mengenalmu tapi kau mengenalku. Siapa kau? Aku harus tau! Aku berjalan di antara orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sedang mengetik, menulis, ataupun saling berkomunikasi membicarakan hal penting yang tidak mungkin untuk aku ganggu.
Tumpukkan kertas yang selalu aku bawa dan tidak akan pernah lepas dari tanganku ini menemaniku ketika aku melangkahkan kakiku. Wajahku terlihat gugup karena begitu banyak orang-orang yang aku lewati saat itu. Aku berjalan dengan sangat terburu-buru berharap agar bisa lekas pergi dari kerumunan orang-orang ini. Bos ku memang memintaku untuk menyetorkan beberapa berkas ke ruangannya. Tapi suasana yang ramai ini sungguh membuatku tidak bisa berkonsentrasi. Aku memang orang yang kikuk, tapi cekatan, gerogian apalagi kalau diperhatikan banyak orang.
Hal yang membuat perasaanku lega akhirnya tiba, aku melewati sekerumunan orang-orang itu dan sampai di depan ruangan bos ku. Aku masuk dengan perasaan gugup karena takut aku membuat kesalahan. Tapi Alhamdulillah, bos ku berterima kasih dan menyuruhku untuk pergi. Berarti aku tidak melakukan kesalahan apapun.
Saat aku keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu dengan perlahan lalu kemudian aku membalikkan badanku aku terkejut… Bruaakkk… Aku menambrak seorang wanita yang sedang membawa tumpukkan kertas yang seketika itu pula berserakan di lantai. Dia sama sekali tidak memandang apalagi melihat wajahku. Mungkin jengkel pikirnya. Aku merasa bersalah dan bergegas untuk membantu membereskan tumpukkan kertas tersebut.
Tanpa aku sangka dia merapikan rambutnya dan seketika itu aku merasa mengenal atau pernah melihat wajah cantik itu sebelumnya. Setelah selesai akupun memberikan kertas yang aku rapikan kepada wanita tersebut.
“Maaf ya…” kataku dengan suara lirih.
Seakan mengenali suaraku, dia yang tinggi hanya sebahuku itu langsung mengalihkan wajahnya dan menatapku dengan senyuman yang membuat hal ini terjadi untuk ketiga kalinya.
Sesaat aku lupa apa yang terjadi, aku lupa kenapa aku ada di hadapan wanita ini.
Dia pun langsung menerima kertas yang aku berikan kepadanya. Tapi, aku tetap penasaran dengan wanita tersebut. Dia pun membalikkan badannya, tapi aku langsung mencegahnya.
“Ee, tunggu!” Pintaku.
“Kamu yang nyapa aku waktu itu kan?” tanyaku..
“Maaf, kalau boleh aku tau namamu.?” Lanjutku.
Tapi wanita itu sama sekali tidak berpaling ataupun menatapku.
Dengan membelakangiku wanita tersebut berkata “Hm, kamu akan tahu!”.
Wanita tersebut langsung pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa menatap rambut hitam lurusnya itu.
“Sial…” kataku dalam hati.
Aku selalu saja seperti ini, entah karena lupa atau apa. Aku benar-benar tidak mengenal wanita tersebut.
Berawal dari…
Kutatap matamu…
Kau jabatkan tanganmu…
Tuk saling berkenalan…
Itulah sepenggal lirik lagu favoritku.
Tapi kali ini aku dan dia tidak saling berjabatan tangan dan berkenalan.
Saat itu, aku sudah menyelesaikan tugasku dengan tuntas. Aku duduk santai di meja kantorku yang sangat berantakan siang itu. Tapi, secangkir teh hangat sejenak menghilangkan rasa lelahku. Aku yang tengah bingung saat itu, berusaha mengingat siapa gadis yang aku tabrak tadi. Tapi pikiranku sudah pol, aku tidak mengingatnya.
“Woy..” tiba-tiba teman sekantorku mengagetkanku tepat dari belakang.
“Ah, loe ini, ngegetin gue aja..” kataku.
“Elo bengong aja pas lagi kerja sih. Sasaran empuk buat gue kagetin.” kata temanku itu sambil tertawa kecil.
“Elo kenapa bengong?” tanya temanku yang sok kepo ini.
“Ah, kaya gak tau aja. Masalah cewek bro!” kataku yang berharap temanku yang satu ini mengenal wanita tersebut.
Tapi temanku yang ini malah menasehati dan ngoceh panjang lebar.
Disaat ocehannya itu, aku lagi-lagi melihat wanita itu, dia nampak anggun berjalan dengan seragam kantor yang menambah kecantikan itu.
Aku tidak lagi mendengarkan ocehan temanku yang sedang mengoceh di sampingku ini.
Pikiranku hanya tertuju pada sosok gadis yang sedang berjalan di antara karyawan-karyawan kantor ini.
“Woy.. Bengong lagi kan loe” Kata temanku dengan sedikit menyenggol wajahku.
“Ha. Gue tau, loe naksir sama cewek itu kan?” Ledek temanku ini.
“Apaan loe ini, gak lah. Udah kerja sana” Aku pun memaksanya untuk pergi dan meninggalku sendiri.
Tidak lama setelah itu aku pun mengenalmu, wanita yang untuk kesekian kalinya membuatku lupa akan dunia ini, dan hanya ada kamu di pikiranku.
Aku tau siapa kamu, namamu dan semua tentangmu.
Tapi, ada satu hal yang membuatku kagum padamu.
Senyummu itu sebenarnya adalah topengmu bukan!
Aku tahu hatimu, perasaanmu dan juga rasa sakit yang engkau hadapi.
Tapi kau tetap menyembunyikan kesedihan hatimu itu dengan senyuman yang indah itu.
Aku tahu dari kicauan-kicauanmu di jejaring sosial yang setiap saat aku bawa.
Aku pun mulai mengagumimu dan berprinsip.
Seperti apapun keadaan hati entah itu sedih ataupun menderita, senyum di wajah akan menutupi hal itu.
Cerpen Karangan: Ardy Nugraha
Blog: ardynamikaze.mywapblog.com

Sumber: disini

iklan

 

Copyright © Your Knowledge Warehouse. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com